|
Kelompok
separatis pro-Rusia di Ukraina timur berencana untuk mengganggu pemilu
presiden di Ukraina yang dijadwalkan berlangsung tanggal 25 Mei
mendatang.
DONETSK,
UKRAINA TIMUR — Bagi para separatis, mengganggu pelaksanaan pemilu
merupakan pekerjaan mudah. Mereka cukup mengerahkan sembilan laki-laki
bersenjata menuju ke kantor utama Komisi Pemilu di Donetsk Rabu (14/5)
lalu dan mengumumkan bahwa kantor itu diduduki. Kecuali barak-barak
militer Ukraina, para pejuang separatis telah menduduki hampir semua
gedung yang mereka inginkan di Donetsk.
Polisi
Donetsk tidak akan menghentikan mereka. Banyak polisi yang tampaknya
mendukung kelompok separatis itu. Lainnya menanti apakah kelompok
separatis atau pemerintah Ukraina yang akan menang dalam adu kekuatan di
Donetsk dan Luhansk. Militer Ukraina cukup sedikit.
Pada
malam menjelang referendum pemisahan diri dari Ukraina, pemimpin
kelompok separatis Luhansk – Valery Bolotov mengatakan warga di Ukraina
Timur tidak ingin ikut dalam pemilu presiden Ukraina.
Pemerintah Ukraina dan negara-negara Barat telah mengecam referendum pemisahan diri Donetsk dan Luhansk.
Pemimpin-pemimpin
kelompok separatis berkeras mereka akan menghentikan proses pemungutan
suara agar tidak berlangsung di bagian timur negara itu. Sementara bagi
Ukraina, pemilu presiden merupakan hal penting. Ini adalah pemilu
pertama Ukraina sejak demonstran pro-Barat menggulingkan pemerintahan
pro-Rusia pimpinan Viktor Yanukovych – yang berasal dari Donetsk – dan
pemilu ini merupakan kesempatan untuk menghentikan perpecahan di
Ukraina.
Beberapa
jajak pendapat memperlihatkan bahwa pemerintah sementara tidak populer
di seluruh Ukraina. Dalam sebuah survei, lebih dari separuh responden di
seluruh Ukraina Timur mengatakan mereka menilai pemerintah sementara
Ukraina tidak sah. Kelompok bersenjata yang masuk ke kantor komisi
pemilihan umum memerintahkan seluruh staf untuk keluar dengan mengatakan
pemilu itu tidak sah.
Serhiy
Taruta – gubernur resmi daerah itu – mengatakan Ukraina tidak
kehilangan kontrol atas Donetsk, propinsi yang berpenduduk 4,3 juta jiwa
atau 10% dari jumlah penduduk Ukraina, dan industri-industri berat yang
ada di daerah itu.
Serhiy
Taruta mengatakan sebagian besar institusi, kantor dan pabrik di
seluruh Donetsk berfungsi normal dan rencana untuk mendesentralisasi
kekuasan akan memperlemah pemberontakan separatis.
Pejabat-pejabat
Ukraina berkeras pemilu akan tetap dilangsungkan, kecuali di kota
Slovyanks yang sedang bergejolak, yang terletak ratusan kilometer di
utara Donetsk. Kota itu secara keseluruhan telah dikuasai oleh kelompok
separatis dan ada rencana agar warga kota Slovyansk mengikuti pemilu di
kota lain yang lebih besar seperti Kramatorsk.
Tetapi
hari Rabu, kelompok separatis menculik kepala komisi pemilu di sana,
pejabat pemilu ketiga dari kota itu yang diculik bulan ini.
Pemerintah
Ukraina tampaknya akan menghadapi masalah keamanan pemilu yang besar.
Penasehat-penasehat asing pemilu menunjukkan kekhawatiran beberapa pekan
lalu bahwa pemerintah tidak mengantisipasi masalah ini dan belum
menetapkan rencana pengamanan di TPS-TPS atau bagi pejabat-pejabat lokal
yang mengawasi jalannya pemilu itu.
Survey
terbaru menunjukkan 85% warga Ukraina akan memberikan suara dalam
pemilu tanggal 25 Mei, yang digambarkan Duta Besar Amerika Untuk Ukraina
sebagai “pemilu terpenting dalam sejarah kemerdekaan Ukraina”.
Tetapi jika pemilu di Ukraina Timur gagal, hal itu hanya akan memperburuk krisis di Ukraina.
Sumber : VOA
Kelompok separatis pro-Rusia di
Ukraina timur berencana untuk mengganggu pemilu presiden di Ukraina yang
dijadwalkan berlangsung tanggal 25 Mei mendatang.
 DONETSK, UKRAINA TIMUR — Bagi para
separatis, mengganggu pelaksanaan pemilu merupakan pekerjaan mudah.
Mereka cukup mengerahkan sembilan laki-laki bersenjata menuju ke kantor
utama Komisi Pemilu di Donetsk Rabu (14/5) lalu dan mengumumkan bahwa
kantor itu diduduki. Kecuali barak-barak militer Ukraina, para pejuang
separatis telah menduduki hampir semua gedung yang mereka inginkan di
Donetsk.
Polisi Donetsk tidak akan menghentikan
mereka. Banyak polisi yang tampaknya mendukung kelompok separatis itu.
Lainnya menanti apakah kelompok separatis atau pemerintah Ukraina yang
akan menang dalam adu kekuatan di Donetsk dan Luhansk. Militer Ukraina
cukup sedikit.
Pada malam menjelang referendum
pemisahan diri dari Ukraina, pemimpin kelompok separatis Luhansk –
Valery Bolotov mengatakan warga di Ukraina Timur tidak ingin ikut dalam
pemilu presiden Ukraina.
Pemerintah Ukraina dan negara-negara Barat telah mengecam referendum pemisahan diri Donetsk dan Luhansk.
Pemimpin-pemimpin kelompok separatis
berkeras mereka akan menghentikan proses pemungutan suara agar tidak
berlangsung di bagian timur negara itu. Sementara bagi Ukraina, pemilu
presiden merupakan hal penting. Ini adalah pemilu pertama Ukraina sejak
demonstran pro-Barat menggulingkan pemerintahan pro-Rusia pimpinan
Viktor Yanukovych – yang berasal dari Donetsk – dan pemilu ini merupakan
kesempatan untuk menghentikan perpecahan di Ukraina.
Beberapa jajak pendapat memperlihatkan
bahwa pemerintah sementara tidak populer di seluruh Ukraina. Dalam
sebuah survei, lebih dari separuh responden di seluruh Ukraina Timur
mengatakan mereka menilai pemerintah sementara Ukraina tidak sah.
Kelompok bersenjata yang masuk ke kantor komisi pemilihan umum
memerintahkan seluruh staf untuk keluar dengan mengatakan pemilu itu
tidak sah.
Serhiy Taruta – gubernur resmi daerah
itu – mengatakan Ukraina tidak kehilangan kontrol atas Donetsk, propinsi
yang berpenduduk 4,3 juta jiwa atau 10% dari jumlah penduduk Ukraina,
dan industri-industri berat yang ada di daerah itu.
Serhiy Taruta mengatakan sebagian
besar institusi, kantor dan pabrik di seluruh Donetsk berfungsi normal
dan rencana untuk mendesentralisasi kekuasan akan memperlemah
pemberontakan separatis.
Pejabat-pejabat Ukraina berkeras
pemilu akan tetap dilangsungkan, kecuali di kota Slovyanks yang sedang
bergejolak, yang terletak ratusan kilometer di utara Donetsk. Kota itu
secara keseluruhan telah dikuasai oleh kelompok separatis dan ada
rencana agar warga kota Slovyansk mengikuti pemilu di kota lain yang
lebih besar seperti Kramatorsk.
Tetapi hari Rabu, kelompok separatis
menculik kepala komisi pemilu di sana, pejabat pemilu ketiga dari kota
itu yang diculik bulan ini.
Pemerintah Ukraina tampaknya akan
menghadapi masalah keamanan pemilu yang besar. Penasehat-penasehat asing
pemilu menunjukkan kekhawatiran beberapa pekan lalu bahwa pemerintah
tidak mengantisipasi masalah ini dan belum menetapkan rencana pengamanan
di TPS-TPS atau bagi pejabat-pejabat lokal yang mengawasi jalannya
pemilu itu.
Survey terbaru menunjukkan 85% warga
Ukraina akan memberikan suara dalam pemilu tanggal 25 Mei, yang
digambarkan Duta Besar Amerika Untuk Ukraina sebagai “pemilu terpenting
dalam sejarah kemerdekaan Ukraina”.
Tetapi jika pemilu di Ukraina Timur gagal, hal itu hanya akan memperburuk krisis di Ukraina.
Sumber : VOA
|
No comments:
Post a Comment