English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Sunday, November 28, 2010

Masjid Jami’ Al Ula Kampung Baru Ilir Balikpapan

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 12:19 AM No comments


Ketika kita melihat Masjid Jami’ Al Ula, mungkin kita mengira masjid tersebut adalah masjid baru/modern. Namun sebenarnya Masjid ini memiliki sejarah panjang. Bahkan boleh dibilang masjid Jami’ Al Ula adalah masjid pertama yang didirikan di Balikpapan.

Kampung Baru adalah awal pemukiman kota Balikpapan, semua kapal berlabuh di sana.  Nama “kampung baru” itu diambil dari kata “baru” yaitu bahan untuk menyatukan kayu kapal supaya tidak bocor (sekarang umumnya menggunakan damar). Sedangkan nama Masjid dari bahasa Banjar yang sering diucapkan oleh saudagar Banjar  yaitu “Ula”yang artinya ‘dimulai’ maksudnya agar pembangunan mushola segera di mulai. Fersi lain menjelaskan kata “ula” adalah bahasa Arab yang artinya “pertama”

Kampung baru sejak semula adalah tempat merapatnya kapal-kapal saudagar yang datang dari Penajam, Sulawesi, Banjarmasin, dan tempat-tempat lain. Mereka yang umumnya beragama Islam. Namun saat itu Kampung Baru tidak memiliki tempat untuk sholat, dari hasil pembicaraan diantara para saudagar terjadi kesepakatan untuk membangun mushola. Bangunan awal terbuat dari kayu dengan atap ijuk. 

Selanjutnya mushola ini berkembang menjadi masjid yang dibangun di atas tanah hibah dari pedagang Tionghoa yang beragama konghucu. Bangunan terbuat dari kayu namun atap sudah terbuat dari sirap. Dihalamannya dibuat kolam untuk wudhu seperti masjid-masjid di jawa dan dibuat sumur-sumur sebagai sumber air. Yang menjadi imam pertama adalah KH Jamaluddin  DG Malewa (dimakamkan di Penajam), imam kedua Puang Sau (dimakamkan di Jenebora), dan imam ke tiga Habib Bassiri dari Banjarmasin (dimakamkan di Penajam).
Keistimewaan masjid antara lain ketika Jepang dan Belanda berusaha mengebom masjid tersebut, bom tidak jatuh di masjid dan bahkan tidak bisa meledak. Dalam sejarahnya terjadi beberapa kali kebakaran di kampung  sekitar masjid namun masjid tidak ikut terbakar, padahal masjid masih terbuat dari kayu.
Tahun 1961 dibentuk panitia pembangunan masjid secara permanen. Kepanitiaan ini memiliki “kontrak mati” dimana terdapat perjanjian jika masjid gagal dibangun sesuai waktu yang telah ditentukan maka seluruh panitia di hukum mati (dibunuh). Ancaman ini diberikan oleh Pangdam IX Mulawarman R. Suharjo yang ternyata anggota PKI.  Berkat kerja keras dan kesungguhan panitia dan warga, masjid dapat didirikan sesuai waktu yang disepakati.



Tahun 1965 pemukiman di sekitar masjid dibakar oleh gerombolan, namun lagi-lagi masjid tidak ikut terbakar. Bahkan ketika barang-barang penduduk yang diamankan ke dalam masjid ikut terbakar, masjid nya tidak terbakar.

Sejak tahun 1970 Masjid Jami’ Al Ula sudah mengalami 3 kali renovasi. Renovasi terakhir selesai dilakukan pad tahun 2004 yang menjadikan masjid ini menjadi masjid permanen berlantai 2 dengan daya tampung sekitar 5.000 jamaah. Dan saat ini sedang direncanakan pembangunan 4 menara disudut-sudut masjid dan peninggian menara utama.
Selama ini biaya pembangunan selalu berasal dari sumbangan-sumbangan yang masuk, tanpa melalui penggalangan dana dengan cara meminta sumbangan di jalan atau mendatangi dari pintu ke pintu. Seolah-olah para donatur berebut untuk menyumbang. Di bulan romadhon jumlah ta’jil untuk berbuka para jamaah di masjid selalu datang dari masyarakat, dan sering kali datang dalam jumlah berlebih.
Pluralisme. Masjid ini sangat mengedapankan kebersamaan dan tidak mempermasalahkan perbedaan. Pengurus memilih untuk tidak menentukan bahwa masjid menjalankan mahdad  tertentu dan tidak menjadi anggota organisasi keislaman tertentu. Setiap perbedaan dibicarakan secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Misalkan saat sholat taraweh, masjid ini melakukan taraweh sebanyak 23 rokaat, setelah rokaat ke 8, jamaah yang melakukan sholat tawawih sebanyak 11 rokaat keluar dari shof untuk melakukan witir sendiri, dan imam memberi keleluasaan kepada jamaah untuk mengatur kembali shof  kemudian melanjutkan sholat.
Peran Masid Jami’ Al Ula bagi masyarakat sekitar bukan hanya sekedar tempat beribadat, namun juga sebagai tempat penanggulangan penyakit masyarakat. Pada masanya kampung baru dikenal sebagai daerah rawan dan tertutup.  Julukan “Texas nya Balikpapan” muncul karena disana terjadi banyak tindak kejahatan seperti judi, kekerasan hingga pembunuhan. Akibatnya warga lain tidak berani masuk ke kampung baru jika tidak ada kepentingan. Kemudian seluruh pengurus masjid jami’ Al Ulu berperan aktif untuk menyadarkan warga dan mengajak mereka ke masjid. Sekarang lingkungan di sekitar Masjid boleh dibilang sudah aman dan penduduk lebih terbuka dan ramah terhadap warga lain.

0 komentar :

Post a Comment

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search