English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Friday, May 16, 2014

Kelompok Separatis Bertekad Ganggu Pilpres di Ukraina

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 3:54 AM No comments


Kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina timur berencana untuk mengganggu pemilu presiden di Ukraina yang dijadwalkan berlangsung tanggal 25 Mei mendatang.
DONETSK, UKRAINA TIMUR — Bagi para separatis, mengganggu pelaksanaan pemilu merupakan pekerjaan mudah. Mereka cukup mengerahkan sembilan laki-laki bersenjata menuju ke kantor utama Komisi Pemilu di Donetsk Rabu (14/5) lalu dan mengumumkan bahwa kantor itu diduduki. Kecuali barak-barak militer Ukraina, para pejuang separatis telah menduduki hampir semua gedung yang mereka inginkan di Donetsk.
Polisi Donetsk tidak akan menghentikan mereka. Banyak polisi yang tampaknya mendukung kelompok separatis itu. Lainnya menanti apakah kelompok separatis atau pemerintah Ukraina yang akan menang dalam adu kekuatan di Donetsk dan Luhansk. Militer Ukraina cukup sedikit.
Pada malam menjelang referendum pemisahan diri dari Ukraina, pemimpin kelompok separatis Luhansk – Valery Bolotov mengatakan warga di Ukraina Timur tidak ingin ikut dalam pemilu presiden Ukraina.
Pemerintah Ukraina dan negara-negara Barat telah mengecam referendum pemisahan diri Donetsk dan Luhansk.
Pemimpin-pemimpin kelompok separatis berkeras mereka akan menghentikan proses pemungutan suara agar tidak berlangsung di bagian timur negara itu. Sementara bagi Ukraina, pemilu presiden merupakan hal penting. Ini adalah pemilu pertama Ukraina sejak demonstran pro-Barat menggulingkan pemerintahan pro-Rusia pimpinan Viktor Yanukovych – yang berasal dari Donetsk – dan pemilu ini merupakan kesempatan untuk menghentikan perpecahan di Ukraina.
Beberapa jajak pendapat memperlihatkan bahwa pemerintah sementara tidak populer di seluruh Ukraina. Dalam sebuah survei, lebih dari separuh responden di seluruh Ukraina Timur mengatakan mereka menilai pemerintah sementara Ukraina tidak sah. Kelompok bersenjata yang masuk ke kantor komisi pemilihan umum memerintahkan seluruh staf untuk keluar dengan mengatakan pemilu itu tidak sah.
Serhiy Taruta – gubernur resmi daerah itu – mengatakan Ukraina tidak kehilangan kontrol atas Donetsk, propinsi yang berpenduduk 4,3 juta jiwa atau 10% dari jumlah penduduk Ukraina, dan industri-industri berat yang ada di daerah itu.
Serhiy Taruta mengatakan sebagian besar institusi, kantor dan pabrik di seluruh Donetsk berfungsi normal dan rencana untuk mendesentralisasi kekuasan akan memperlemah pemberontakan separatis.
Pejabat-pejabat Ukraina berkeras pemilu akan tetap dilangsungkan, kecuali di kota Slovyanks yang sedang bergejolak, yang terletak ratusan kilometer di utara Donetsk. Kota itu secara keseluruhan telah dikuasai oleh kelompok separatis dan ada rencana agar warga kota Slovyansk mengikuti pemilu di kota lain yang lebih besar seperti Kramatorsk.
Tetapi hari Rabu, kelompok separatis menculik kepala komisi pemilu di sana, pejabat pemilu ketiga dari kota itu yang diculik bulan ini.
Pemerintah Ukraina tampaknya akan menghadapi masalah keamanan pemilu yang besar. Penasehat-penasehat asing pemilu menunjukkan kekhawatiran beberapa pekan lalu bahwa pemerintah tidak mengantisipasi masalah ini dan belum menetapkan rencana pengamanan di TPS-TPS atau bagi pejabat-pejabat lokal yang mengawasi jalannya pemilu itu.
Survey terbaru menunjukkan 85% warga Ukraina akan memberikan suara dalam pemilu tanggal 25 Mei, yang digambarkan Duta Besar Amerika Untuk Ukraina sebagai “pemilu terpenting dalam sejarah kemerdekaan Ukraina”.
Tetapi jika pemilu di Ukraina Timur gagal, hal itu hanya akan memperburuk krisis di Ukraina.
Sumber : VOA
Kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina timur berencana untuk mengganggu pemilu presiden di Ukraina yang dijadwalkan berlangsung tanggal 25 Mei mendatang.
DONETSK, UKRAINA TIMUR — Bagi para separatis, mengganggu pelaksanaan pemilu merupakan pekerjaan mudah. Mereka cukup mengerahkan sembilan laki-laki bersenjata menuju ke kantor utama Komisi Pemilu di Donetsk Rabu (14/5) lalu dan mengumumkan bahwa kantor itu diduduki. Kecuali barak-barak militer Ukraina, para pejuang separatis telah menduduki hampir semua gedung yang mereka inginkan di Donetsk.
Polisi Donetsk tidak akan menghentikan mereka. Banyak polisi yang tampaknya mendukung kelompok separatis itu. Lainnya menanti apakah kelompok separatis atau pemerintah Ukraina yang akan menang dalam adu kekuatan di Donetsk dan Luhansk. Militer Ukraina cukup sedikit.
Pada malam menjelang referendum pemisahan diri dari Ukraina, pemimpin kelompok separatis Luhansk – Valery Bolotov mengatakan warga di Ukraina Timur tidak ingin ikut dalam pemilu presiden Ukraina.
Pemerintah Ukraina dan negara-negara Barat telah mengecam referendum pemisahan diri Donetsk dan Luhansk.
Pemimpin-pemimpin kelompok separatis berkeras mereka akan menghentikan proses pemungutan suara agar tidak berlangsung di bagian timur negara itu. Sementara bagi Ukraina, pemilu presiden merupakan hal penting. Ini adalah pemilu pertama Ukraina sejak demonstran pro-Barat menggulingkan pemerintahan pro-Rusia pimpinan Viktor Yanukovych – yang berasal dari Donetsk – dan pemilu ini merupakan kesempatan untuk menghentikan perpecahan di Ukraina.
Beberapa jajak pendapat memperlihatkan bahwa pemerintah sementara tidak populer di seluruh Ukraina. Dalam sebuah survei, lebih dari separuh responden di seluruh Ukraina Timur mengatakan mereka menilai pemerintah sementara Ukraina tidak sah. Kelompok bersenjata yang masuk ke kantor komisi pemilihan umum memerintahkan seluruh staf untuk keluar dengan mengatakan pemilu itu tidak sah.
Serhiy Taruta – gubernur resmi daerah itu – mengatakan Ukraina tidak kehilangan kontrol atas Donetsk, propinsi yang berpenduduk 4,3 juta jiwa atau 10% dari jumlah penduduk Ukraina, dan industri-industri berat yang ada di daerah itu.
Serhiy Taruta mengatakan sebagian besar institusi, kantor dan pabrik di seluruh Donetsk berfungsi normal dan rencana untuk mendesentralisasi kekuasan akan memperlemah pemberontakan separatis.
Pejabat-pejabat Ukraina berkeras pemilu akan tetap dilangsungkan, kecuali di kota Slovyanks yang sedang bergejolak, yang terletak ratusan kilometer di utara Donetsk. Kota itu secara keseluruhan telah dikuasai oleh kelompok separatis dan ada rencana agar warga kota Slovyansk mengikuti pemilu di kota lain yang lebih besar seperti Kramatorsk.
Tetapi hari Rabu, kelompok separatis menculik kepala komisi pemilu di sana, pejabat pemilu ketiga dari kota itu yang diculik bulan ini.
Pemerintah Ukraina tampaknya akan menghadapi masalah keamanan pemilu yang besar. Penasehat-penasehat asing pemilu menunjukkan kekhawatiran beberapa pekan lalu bahwa pemerintah tidak mengantisipasi masalah ini dan belum menetapkan rencana pengamanan di TPS-TPS atau bagi pejabat-pejabat lokal yang mengawasi jalannya pemilu itu.
Survey terbaru menunjukkan 85% warga Ukraina akan memberikan suara dalam pemilu tanggal 25 Mei, yang digambarkan Duta Besar Amerika Untuk Ukraina sebagai “pemilu terpenting dalam sejarah kemerdekaan Ukraina”.
Tetapi jika pemilu di Ukraina Timur gagal, hal itu hanya akan memperburuk krisis di Ukraina.
Sumber : VOA

China : U.S. Must Objective To Tensions in Asia

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 2:01 AM No comments
China said some neighboring countries use the U.S. stance shifting the focus of its foreign policy in Asia as an opportunity to confuse the situation .
WASHINGTON - Chinese military officials on Thursday ( 15/5 ) new focus blame the Obama administration over Asia to various disputes in the South China Sea and the East , saying ' some neighboring countries ' to use the issue as an opportunity to provoke problems .
Speaking to reporters at the Defense Department or the Pentagon , Chief of General Staff Gen. Fang Fenghui The Chinese military also warned that the U.S. must be objective to the tensions between China and Vietnam or risk damaging relations between Washington and Beijing .
He defended the construction of the oil rig in the South China Sea and said Beijing had no intention of ignoring drilling despite violent protests in Vietnam .
Fang was at the Pentagon to meet with the Chairman of the Joint Commander General Martin Dempsey . The meeting is in the middle of riots that targeted the Chinese at a steel plant in Vietnam and the protests of anti - China oil rig construction terkair about 150 miles off the coast of Vietnam.
In response , Vietnam sent ships to terasebut region , which continues to meet and collide with the Chinese ships that keep the platform.
Fang stressed that the Chinese government believes that drilling in China's territorial waters and ' we do not want to lose an inch ' of the region , which has been passed ancestors .
Dempsey discussion with Fang refused to elaborate , saying only that they discussed the ' tensions in the South China Sea and how provocative actions could lead to confrontation . '
Fang said ' some neighboring countries ' to use the American position shifted the focus of its foreign policy in Asia as an opportunity to ' confuse several issues that make the South China Sea and East China Sea are not as quiet as before. '
Increased focus from the U.S. to Asia , including the addition of military forces , ships and other assets in the region . ( AP )
Source: VOA

Dollar weaker in Asia as US, Eurozone Data Disappoint

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 1:52 AM No comments


The dollar was under pressure in Asia Friday following a disappointing batch of data out of the United States and eurozone that led investors out of high risk assets.
In afternoon Tokyo trading, the greenback fetched 101.46 yen, down from 101.57 yen in New York and 101.83 yen in Tokyo earlier Thursday.
The euro bought $1.3715 and 139.19 yen compared with $1.3711 and 139.26 yen.
In other trading, the Indian rupee gained more than one percent as the nation's stock market jumped to a record high.
The dollar bought 58.69 Indian rupees Friday afternoon, down from 59.50 rupees on Thursday, as election results indicated Hindu nationalist party leader Narendra Modi, riding a wave of public support for his pledge to revive the economy, was set to become the country's next prime minister.
In the eurozone, gross domestic product (GDP) across the 18-nation group expanded just 0.2 percent in January-March, data agency Eurostat said, half the 0.4 percent that had been forecast.
Source : AFP

Yen Set for Consecutive Weekly Gain on Haven Bid Amid Slowdown

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 1:52 AM No comments


The yen headed for its first back-to-back weekly gain in three months as signs of weakness in some of the world��s biggest economies spurred demand for haven assets.
The dollar traded near the lowest in almost two months against its Japanese peer as Federal Reserve Chair Janet Yellen said the U.S. has Å“further to go to achieve a healthy economy, following data yesterday that showed inflation accelerated while industrial production unexpectedly fell. The euro was set for a second weekly decline versus the yen after growth missed economist forecasts, adding to speculation the European Central Bank will boost measures supporting expansion.
The yen was little changed at 101.57 per U.S. dollar as of 10:50 a.m. in Tokyo after touching 101.32 yesterday, the strongest since March 19. It traded at 139.35 per euro from 139.26 after strengthening to as much as 138.98 yesterday, a level unseen since Feb. 27. Europe��s shared currency bought $1.3719 from $1.3710 yesterday, when it fell to $1.3648, the lowest since Feb. 27.
Source : Bloomberg

Gold holds below $1,300 on solid U.S. data

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 1:51 AM No comments


Gold struggled below $1,300 an ounce on Friday as U.S. jobs and factory data indicated brighter prospects for the economy, hurting the metal's appeal as an investment hedge.
Spot gold was little changed at $1,296.30 an ounce by 0021 GMT, after dropping 0.7 percent on Thursday. The metal is still up 0.6 percent for the week on earlier gains on Ukraine tensions.
New applications for U.S. unemployment benefits hit a seven-year low last week while consumer prices recorded their largest increase in 10 months in April, pointing to a firming economy. Factory activity in New York state expanded at its quickest pace in nearly four years in May.
Regulatory data showed that hedge fund Paulson & Co in Q1 maintained its stake in SPDR Gold Trust, the world's biggest gold-backed exchange-traded fund as bullion prices rebounded from their biggest annual loss in 32 years in 2013, while PIMCO dissolved its gold ETF investment.
Source : Reuters

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search