English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Thursday, September 13, 2018

Ini Alasan Obligasi Valas Pemerintah Lebih Stabil

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 10:58 PM No comments
Ini Alasan Obligasi Valas Pemerintah Lebih Stabil
PT KONTAK PERKASA -  Surat utang pemerintah Indonesia berdenominasi dolar Amerika Serikat masih relatif bertahan di tengah gejolak pasar global saat ini, menandakan kepercayaan investor secara umum masih tinggi terhadap Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga Kamis (13/9), yield surat utang negara (SUN) berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun atau INDO28 berada pada posisi 4,53%. Yield ini sudah meningkat 100,6 bps dari posisi akhir tahun lalu. Secara persentase, peningkatan yield ini mencapai 28,5% secara year-to-date (ytd).

Peningkatan yield ini lebih rendah dibandingkan dengan yang terjadi pada instrumen SUN berdenominasi rupiah tenor 10 tahun seri FR0064 yang sepanjang tahun ini sudah meningkat 201,3 bps ke posisi 8,48%. Peningkatan ini setara 31% ytd.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa peningkatan yield INDO28 tidak setinggi FR0064 karena obligasi global pemerintah tidak terpapar risiko kurs. Peningkatan yield pada seri rupiah adalah untuk mengompensasi pelemahan kurs.

Sepanjang tahun berjalan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah melemah 9,89% sehingga kini berada pada posisi Rp14.840 per dolar AS. Meskipun tidak terpapar faktor kurs, tetapi tidak berarti INDO28 bebas sentimen negatif.

Volatilitas pasar global yang meningkat akibat berbagai faktor seperti perang dagang, krisis sejumlah negara berkembang, pemulihan ekonomi AS, menyebabkan derasnya arus modal keluar dari negara berkembang.

Di sisi lain, Indonesia juga masih menghadapi defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan yang lebar. Secara total, faktor-faktor tersebut meningkatkan persepsi resiko investasi Indonesia, tercermin dari kian tingginya angka credit default swap (CDS).

Berdasarkan data Bloomberg, CDS 5 tahun Indonesia sudah meningkat 63,93% sepanjang tahun berjalan, dari posisi 86,90 menjadi 142,46 pada Kamis (13/9). Posisi CDS Indonesia bahkan sempat menyentuh 150,81 pada Rabu (5/9) pekan lalu.

“Tren dolar yang menguat saat ini memang menyebabkan risiko lebih besar pada obligasi berdenominasi rupiah, sehingga investor asing merasa lebih aman pada obligasi valas walaupun sama-sama berisiko. Di obligasi valas, investor hanya memperhatikan CDS saja,” katanya, Rabu (12/9).

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa peningkatan CDS tahun ini yang paling jauh baru pada level 150 atau masih sangat aman bagi Indonesia. Level CDS boleh dianggap menghawatirkan bila sudah mencapai level 250 atau 300.

Di sisi lain, pelemahan yang terjadi pada nilai tukar rupiah selama ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksnternal. Secara umum, data fundamental Indonesia seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan defisit anggaran masih sangat sehat.

“Global bond kita tetap kuat karena investor belum melihat adanya pelemahan yang signifkan dari fundamental Indonesia, sehingga masih oke bagi mereka untuk investasi di sini,” katanya. 

Selain itu, yield US Treasury juga sejauh ini tidak terlalu lama bertahan di atas level 3%, tetapi cenderung selalu turun kembali. Kemarin, yield US Treasury 10 tahun ditutup di level

Siswa Rizali, Presiden Direktur Asanusa Asset Management, mengatakan bahwa di tengah kondisi global yang belum stabil, investor asing cenderung keluar dari semua negara berkembang. Selanjutnya, mereka mulai mengamati negara-negara berkembang yang lebih solid dan memiliki daya tahan lebih baik. 

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu yang masih menarik. Hanya saja, investor asing saat ini tidak cukup berani untuk masuk ke instrumen berdenominasi rupiah meskipun yieldnya tinggi, sebab risiko kurs sulit diukur. Alhasil, pilihan paling menarik adalah pada seri berdenominasi dolar.

Menurutnya, hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan harga atau peningkatan yield pada INDO28 dan obligasi global pemerintah lainnya tidak setajam SUN berdenominasi rupiah saat ini. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, posisi kepemilikan investor asing pada surat berharga negara (SBN) domestik tercatatnet sell Rp900 miliar per Rabu (12/9) dibandingkan akhir tahun lalu.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director FixedIncome Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa secara umum karakter investor di pasar surat utang negara berdenominasi asing tidak sesensitif seperti pasar dalam negeri.

Di dalam negeri, investor domestik cenderung menyimpan obligasi negara untuk jangka panjang atau hingga jatuh tempo, sementara investor asingnya cenderung banyak bermain di pasar sekunder. Alhasil, pergerakan harga sangat dipengaruhi oleh dinamika investor asing. 

Sementara itu, di pasar obligasi valas secara umum cenderun lebih stabil sehingga investor justru banyak mencarinya ketika situasi pasar sedang bergejolak. Apalagi, Indonesia saat ini sudah memiliki peringkat layak investasi penuh dari seluruh lembaga pemeringkat utama dunia.

“Yield obligasi valas kita cukup tinggi di luar dan stabil. Walaupun tertekan, itu hanya karena faktor pasar saja. Ini menjadikan insturmen surat utang valas pemerintah ini menarik,” katanya.




Wednesday, September 12, 2018

Harga Minyak Dongkrak Bursa Eropa

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 6:52 PM No comments
Harga Minyak Dongkrak Bursa Eropa
KONTAK PERKASA FUTURES - Penguatan harga minyak dan saham pertambangan mendorong bursa saham Eropa naik pada perdagangan Rabu (12/9/2018).
Indeks Stoxx 600 naik 0,5%, meskipun bursa saham Asia melemah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan sikap keras AS terhadap dengan China dalam hal perdagangan.
Saham perusahaan minyak naik 1,6% setelah harga Brent mencapai level US$$80 per barel menyusul penurunan persediaan minyak mentah AS dan saat sanksi terhadap Iran menambah kekhawatiran seputar pasokan global. Saham pertambangan pun naik 1,3%.
“Kami pikir ada kemungkinan bahwa aksi jual pasar ekuitas, terutama di zona waktu Eropa, akan melambat atau bahkan berbalik untuk sementara,” terang pakar strategi RBC, seperti dikutip Reuters.
“Sementara 'gesekan perdagangan' dan persepsi melambatnya pasar Asia sebagai akibatnya terlihat, tampaknya ada banyak pembelian untuk aset risiko pada tahap ini juga,” lanjutnya.
Saham perusahaan bioteknologi Belanda, Galapagos, melonjak 17,6% setelah hasil uji coba positif untuk obat perawatan rheumatoid arthritis.
Saham pemilik Zara, Inditex, naik 4,1% setelah peritel fesyen ini mengatakan pihaknya memperkirakan pertumbuhan margin laba di paruh kedua.
Saham Salvatore Ferragamo naik 4,1% di tengah spekulasi rumor kemungkinan pengambilalihan. Namun keluarga yang mengendalikan kelompok mode ini tidak tertarik untuk menjual sahamnya, menurut juru bicara grup itu.
Adapun saham Hermes naik 4% setelah produsen tas asal Prancis ini melaporkan rekor margin untuk paruh pertama. "Hermes menyampaikan serangkaian hasil yang solid. Yang penting, perusahaan mencatat kontribusi positif terhadap laba dari permintaan yang kuat di China," tulis analis Berenberg.
BACA JUGA : 

Saham Apple Terpeleset Setelah Rilis Produk, Nasdaq Turun

Tuesday, September 11, 2018

Saham Apple Naik Jelang Peluncuran iPhone Baru, Wall Street Terkerek

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 6:41 PM No comments
Saham Apple Naik Jelang Peluncuran iPhone Baru, Wall Street Terkerek
PT KONTAK PERKASA - Penguatan saham Apple dan harga minyak mentah membantu mengerek bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) naik pada akhir perdagangan Selasa (11/9/2018).
Indeks S&P 500 ditutup naik 0,37% atau 10,76 poin di level 2.887,89, indeks Nasdaq Composite menguat 0,61% atau 48,31 poin di level 7.972,47, dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir naik 0,44% atau 113,99 poin di level 25.971,06.
Saham produsen iPhone Apple Inc. menguat 2,5% sekaligus mendorong ketiga indeks saham utama tersebut, sehari menjelang peluncuran model iPhone terbarunya.
Sektor teknologi pada indeks S&P pun naik 0,8%, kenaikan persentase terbesar dalam dua pekan. Kenaikan sektor ini juga didorong saham Microsoft dan Facebook yang masing-masing naik 1,7% dan 1,1%.
“Itu menjadi bahan bakar utama untuk pasar,” ujar Alan Lancz, Presiden Alan B. Lancz & Associates Inc, sebuah konsultan investasi yang berbasis di Toledo, Ohio. “Mungkin teknologi telah mulai pulih dan investor semakin yakin akan kebangkitannya.”
Sektor teknologi telah naik hampir 18% sepanjang tahun ini sekaligus memimpin penguatan sektor dalam S&P 500 bersama dengan konsumer discretionary, yang juga telah naik sekitar 18% sejak 31 Desember.
Penguatan S&P 500 turut terbantukan kenaikan indeks energi sebesar 1%, dengan saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing naik 1,4% dan 0,5%. Harga minyak menanjak setelah sanksi AS menekan ekspor minyak mentah Iran serta memperketat pasokan global.
Sementara itu, Badai Florence yang naik ke Kategori 4 dan diperkirakan akan melanda wilayah Carolina akhir pekan ini, memberi keuntungan pada peningkatan penjualan sejumlah perusahaan sekaligus mendorong sahamnya naik.
Saham peritel perkakas rumah Home Depot dan Lowe's Companies masing-masing naik 1,5% dan 1,6%, disertai dengan kenaikan saham perusahaan bahan konstruksi.
Wall Street berhasil menguat terlepas dari bertahannya tensi perdagangan antara AS dan China. Yang terkini, China menyatakan keinginannya kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk menjatuhkan sanksi terhadap AS.

BACA JUGA : PT KONTAK PERKASA - Peluang Penguatan IHSG Masih Terbuka
PT KONTAK PERKASA

Monday, September 10, 2018

Data Ekonomi AS Tekan Harga Emas Comex

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 8:49 PM No comments
Data Ekonomi AS Tekan Harga Emas Comex

KONTAK PERKASA FUTURES  - Ekonomi AS terus berjaya dan mempengaruhi pasar termasuk pada bursa berjangka emas.
Nilai kontrak emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun pada akhir perdagangan Senin waktu setempat atau Selasa (11/9/2018) pagi WIB).

Penurunan terjadi, karena data ekonomi AS yang kuat mendukung ekspektasi untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember, turun 0,6 dolar AS atau 0,05%, menjadi ditutup pada 1.199,8 dolar AS per ounce.

Amerika Serikat menciptakan 201.000 pekerjaan baru pada Agustus dan menjaga tingkat pengangguran di posisi terendah 18 tahun pada 3,9%, Demikian disampaikan Departemen Tenaga Kerja AS, Jumat(7/9).

 Federal Reserve AS untuk menaikkan suku bunga acuannya, setidaknya sekali lagi pada September, yang sudah diperkirakan.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Federal Reserve AS dijadwalkan akan mengadakan pertemuan regulernya pada 25-26 September dan diperkirakan akan mengumumkan kenaikan suku bunganya.

Namun demikian, penurunan emas lebih lanjut tertahan oleh pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS yang mengukur mata uang greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun 0,22% menjadi 95,1475 pada pukul 19.00 GMT.

Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan dolar AS, yang berarti jika dolar AS melemah maka emas berjangka akan naik, karena emas yang dihargakan dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 1,1 sen AS atau 0,08%, menjadi menetap di 14,181 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan Oktober menambahkan 9,6 dolar AS atau 1,23%, menjadi ditutup pada 790 dolar AS per ounce.

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search