English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Wednesday, November 4, 2020

Harga Minyak Melonjak 4 Persen karena Pasokan AS Turun Tajam

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 11:21 PM No comments
PT KONTAK PERKASA - Harga minyak melonjak pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta). Kenaikan ini terjadi setelah Presiden Donald Trmp keliru mengklaim kemenangan dalam pemilihan presiden (Pilpres) AS.

Kemenangan Trump dipandang sebagai bullish untuk harga minyak karena sanksi terhadap Iran dan dukungannya untuk pemotongan produksi minyak.

Sentimen lain yang mendorong harga minyak pada perdagangan Rabu karena adanya data penurunan yang sangat besar persediaan minyak mentah di AS.

Mengutip CNBC, Kamis (5/11/2020), harga minyak West Texas Intermediate naik 4 persen, atau USD 1,49 ke level USD 39,15 per barel. Sedangkan harga minyak mentah Brent naik 92 sen atau 2,3 persen menjadi USD 40,63 per barel.

Kedua patokan harga minyak memperpanjang kenaikan setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 8 juta barel pekan lalu karena Badai Zeta memaksa penurunan produksi di Teluk Meksiko selama periode tersebut.

Ekspor minyak mentah mingguan AS turun 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi sekitar 2,3 juta barel per hari pekan lalu. Ini adalah penurunan terbesar sejak Januari. Hal ini juga terjadi karena Badai Zeta mengganggu aliran.

Trump secara keliru mengklaim telah menang atas penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden. Trump mengatakan bahwa dia yakin akan memenangkan kontes sebelum beberapa negara bagian menyelesaikan penghitungan suara dalam beberapa jam atau hari ke depan.

“Mungkin kesimpulan terbesar yang dapat ditarik bahwa hanya ada kemungkinan kecil insentif pajak minyak dan gas yang ada akan dihapus di AS. Bahkan jika Biden muncul sebagai pemenang," jelas Kepala Riset Rystad Energy, Artem Abramov.

Harga minyak juga didukung oleh kemungkinan produsen OPEC dan Rusia untuk mempertimbangkan menunda rencana kenaikan produksi OPEC + mulai Januari karena gelombang virus Covid-19 kedua menghambat pemulihan permintaan bahan bakar.

OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +, sebelumnya setuju untuk mengurangi pemotongan sebesar 2 juta barel per hari dari 7,7 juta barel per hari mulai Januari.

Lebih banyak lockdown dapat membatasi kenaikan harga minyak. Italia, Norwegia, dan Hongaria telah memperketat pembatasan karena Corona, mengikuti Inggris, Prancis, dan negara lain.

 

BACA JUGA :

Wall Street Melambung Meski Pilpres AS Belum Memperlihatkan Hasil


PT KONTAK PERKASA

Tuesday, November 3, 2020

Pilpres AS Berlangsung, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 9:13 PM No comments
KONTAK PERKASA FUTURES - Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) / Pilpres AS 2020 sedang berlangsung. Penghitungan suara saat ini tengah dilakukan, dan masyarakat menanti-nanti apakah Donald Trump atau Joe Biden yang akan jadi Presiden AS.

Banyak spekulasi yang tercipta soal pemimpin negeri Paman Sam ini, terutama dalam bidang ekonomi. Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyatakan, dampak Pilpres AS akan bergantung terhadap siapa calon presiden (capres) yang menang, namun secara umum, tidak berdampak besar bagi ekonomi Indonesia.

"Siapapun yang menang, efeknya ke pasar keuangan hanya temporer," kata Piter saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (4/11/2020).

Menurut Piter, jika Trump yang menang, respons pasar keuangan global dan Indonesia akan negatif, tetapi secara keseluruhan dampaknya ke Indonesia tidak signifikan. "Tidak akan ada yang baru kepada perekonomian Indonesia," lanjutnya.

Namun jika Biden menang, lanjut Piter, diperkirakan tensi ekonomi politik di dunia akan mereda. Kebijakan Biden dinilai lebih bisa diprediksi sehingga tidak menimbulkan gejolak, berbeda dengan Trump yang 'berapi-api' dan konfrontatif saat menyikapi kasus ekonomi politik dunia.

Bahkan jika menang, Biden mungkin bisa mengakhiri perang dagang AS dengan China, yang selama ini menambah ketidakpastian ekonomi dunia.

"Meskipun untuk perekonomian Indonesia secara keseluruhan tidak akan terdampak signifikan, berakhirnya perang dagang bisa menjadi hal yang positif," jelas Piter.

Tetap saja, lanjut Piter, kondisi ekonomi dunia saat ini tidak hanya didasarkan pada faktor siapa yang menjadi Presiden AS saja. Apalagi saat pandemi Covid-19 belum mereda, tentu yang bisa mengembalikan gejolak ketidakpastian ekonomi ialah bagaimana pandemi bisa dituntaskan dengan segera.

"Dalam jangka waktu yang lebih panjang, perekonomian kita lebih dipengaruhi oleh kita sendiri, termasuk dipengaruhi bagaimana kita menanggulangi pandemi. Jangan berharap hasilpilpres AS akan mengubah total kebijakan AS dan berdampak luar biasa terhadap perekonomian global," tandas Piter.

 BACA JUGA : Wall Street Menguat Jelang Penghitungan Suara Pemilihan Presiden AS
KONTAK PERKASA FUTURES

Monday, November 2, 2020

Usai Tertekan Dalam, Harga Minyak Berbalik Arah dan Naik 3 Persen

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 9:58 PM No comments

PT KONTAK PERKASA   - Harga minyak naik 3 persen pada penutupan perdangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Kenaikan ini menghapus penurunan yang terjadi sebelumnya.

Harga minyak memang berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir karena kekhawatiran penurunan permintaan di negara Eropa akibat pemberlakukan lockdown. Selain itu, peningkatan jumlah warga yang terinfeksi virus covid-19 di AS juga meningkatkan kekhawatiran.

Mengutip CNBC, Selasa (3/11/2020), harga minyak mentah Brent naik USD 1,14, atau 3 persen diperdagangkan pada USD 39,08 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate naik USD 1,02 atau 2,8 persen menjadi USD 36,81 per barel.

Kedua kontrak minyak ini sempat turun lebih dari USD 2 di awal sesi, tetapi kemudian mampu berbalik arah.

Harga minyak mampu menguat karena pesanan ekspor Jepang tumbuh untuk pertama kalinya dalam dua tahun dan aktivitas pabrik China naik ke level tertinggi dalam hampir satu dekade pada bulan Oktober.

Selanjutnya, aktivitas manufaktur AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Oktober, dengan pesanan baru melompat ke level tertinggi dalam hampir 17 tahun.

Indeks saham AS, yang terkadang mempengaruhi harga minyak di pasar berjangka, naik pada hari Senin.

Analis mengatakan hasil pemilu yang paling mungkin mengguncang pasar saham dalam waktu dekat akan terjadi jika tidak ada pemenang yang jelas pada Selasa malam.

Presiden Donald Trump berhadapan dengan kandidat dari Partai Demokrat Joe Biden dalam pemilihan kali ini. Sebagian besar pelaku pasar cukup khawatir akan terjadi turbulensi karena protes yang berasal dari hasil pemilu.

"Kekhawatiran atas pasokan minyak dan permintaan akan mempengaruhi harga minyak. Sedangkan peran kedua yang bisa mempengaruhi harga minyak adalah pemilihan presiden AS dan bagaimana pasar berisiko akan bereaksi terhadap hasilnya," kata analis BNP Paribas Harry Tchilinguirian.

Negara-negara di seluruh Eropa telah menerapkan kembali lockdown untuk memperlambat tingkat infeksi Covid-19 yang telah meningkat selama sebulan terakhir.

Analis perdagangan minyak global dan beberapa perusahaan energi global memperkirakan kehancuran permintaan lebih lanjut karena kebangkitan kasus virus Covid-19 ini.

Perusahaan energi global Vitol memperkirakan permintaan musim dingin mencapai 96 juta barel per hari (bph). Sementara Trafigura memperkirakan permintaan turun menjadi 92 juta bph atau lebih rendah.

Rystad Energy melihat permintaan memuncak pada 2028, bukan pada 2030, dan melihat pemulihan yang lebih lambat tahun depan.

“Penguncian akan menghambat pemulihan ekonomi dalam jangka pendek dan jangka panjang dan pandemi juga akan meninggalkan warisan perubahan perilaku yang juga akan mempengaruhi penggunaan minyak sehingga menekan harga minyak,” kata Artyom Tchen dari Rystad Energy.

Pasokan Libya mencapai sekitar 800 ribu barel per hari, naik lebih dari 100 ribu barel per hari dari beberapa hari lalu, sumber Libya mengatakan kepada Reuters pada Sabtu kemarin.

Sedangkan rebound di sumur operasi AS, mengkhawatirkan investor tentang pasokan yang akan melebihi permintaan.

Survei Reuters juga menunjukkan bahwa produksi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) naik untuk bulan keempat di bulan Oktober.

BACA JUGA : Awali November, Wall Street Menghijau

PT KONTAK PERKASA

Sunday, November 1, 2020

KONTAK PERKASA FUTURES - Saham di Asia-Pasifik naik pada perdagangan Senin pagi. Data yang dirilis selama akhir pekan kemarin menunjukkan aktivitas manufaktur China tumbuh pada tingkat yang sedikit lebih lambat di bulan Oktober.

Dikutip dari CNBC, Senin (2/11/2020), di Jepang, Nikkei 225 naik 1,01 persen pada awal perdagangan. Sementara indeks Topix melonjak 1,63 persen.

Kospi Korea Selatan menguat 0,58 persen. Sementara itu, saham di Australia berayun antara wilayah positif dan negatif, dengan S&P/ASX 200 terakhir diperdagangkan 0,13 persen lebih tinggi.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang sedikit berubah.

Sedangkan harga minyak turun pada pagi hari jam perdagangan Asia, dengan patokan internasional minyak mentah berjangka Brent turun 4,69 persen menjadi USD 36,16 per barel. Minyak mentah berjangka AS turun 5,14 persen menjadi USD 33,95 per barel.

Data ekonomi China

Fokus investor pada hari Senin kemungkinan besar akan tertuju pada ekonomi China. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur resmi China untuk Oktober berada di 51,4, menurut Biro Statistik Nasional negara itu. Ini sedikit lebih rendah dari laporan September yang sebesar 51,5.

Pembacaan PMI di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan yang di bawah menunjukkan kontraksi. Pembacaan PMI berurutan dan mewakili ekspansi atau kontraksi bulan.

Sebuah survei pribadi tentang aktivitas manufaktur China diharapkan pada hari Senin, dengan PMI manufaktur Caixin/Markit akan keluar sekitar pukul 9:45 pagi HK/SIN.

Bursa saham di kawasan Asia Pasifik dibuka beragam pada perdagangan Jumat pagi. Sedangkan Wall Street ditutup menguat pada perdagangan semalam.

mengutip CNBC, Jumat (30/10/2020), indeks Nikkei 225 Jepang tergelincir 0,36 persen. Sementara indeks Topix Jepang juga turun 0,73 persen.

Dalam laporan awal Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, produksi industri di negara tersebut naik 4 persen pada September jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Untuk indeks Kospi Korea Selatan juga melemah 0,41 persen. Sementara, indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,3 persen.

Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang yang menjadi patokan bursa saham Asia hanya sedikit berubah di awal perdagangan.

Untuk perkembangan pembuatan baksin Covid-19, perusahaan bioteknologi Moderna mengatakan pada Kamis kemarin bahwa pihaknya tengah mempersiapkan peluncuran secara global vaksin Covid-19.

Pengumuman tersebut di tengah meningkatnya kasus di AS serta Eropa, dengan Jerman dan Prancis mengumumkan akan kembali melakukan penguncian secarea nasional.

Untuk saham perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik yang memasok komponen untuk Apple diperdagangkan beragam.

Di Jepang, saham Taiyo Yuden turun sekitar 1 persen dan Murata Manufacturing tergelincir 0,4 persen. Di Korea Selatan, saham LG Display naik 0,69 persen.

BACA JUGA : 3 Jurus Bikin Jualan Tetap Laku via Online Meski Saat Pandemi

KONTAK PERKASA FUTURES

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search