English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Monday, September 17, 2018

Bursa Eropa Berbalik Menguat di Tengah Kekhawatiran Tarif Perdagangan

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 6:04 PM No comments

 KONTAK PERKASA FUTURES  - Bursa saham Eropa ditutup berbalik menguat pada akhir perdagangan Senin (17/9/2018) di tengah laporan Presiden AS Donald Trump berencana menerapkan tarif 10% untuk impor produk China senilai US$200 miliar.
Indeks Stoxx Europe 600 ditutup menguat 0,46 poin atau 0,12% ke level 378,31, setelah berfluktuasi pada kisaran 376,93-378,69. Adapun indeks DAX Jerman, rumah bagi eksportir besar dan produsen mobil, turun 0,2%.
"Saya pikir pasar telah mencerna kurang lebih semua rollercoaster mengenai tarif impor ini," kata Dimitrios Stefanopoulos, manajer portofolio di AlphaTrust, seperti dikutip Reuters.
Dimitrios menambahkan bahwa investor yakin Trump akan mencari kesepakatan menjelang pemilihan jangka menengah AS.
Meskipun kemungkinan tarif bea impor awal China dilaporkan lebih rendah dari rencana sebelumnya sebesar 25%, para ekonom mengatakan hal ini masih akan memiliki dampak signifikan pada pasar.
"Para ekonom kami di AS kami memperkirakan bahwa bahkan tarif 10% akan memperlambat pertumbuhan pada kuartal keempat, mengakibatkan Fed melewatkan kenaikan suku bunga acuan pada Desember," tulis tim analis UBS.
Pasar didukung oleh sektor defensif seperti telekomunikasi dan utilitas. Sektor-sektor siklis, yang lebih sensitif terhadap perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, telah tertekan ketika sentimen perang perdagangan meningkat selama beberapa bulan terakhir.
"Jika perang perdagangan menyentuh ekonomi, maka saham defensif akan menjadi lebih baik," kata Dimitrios.
Sejumlah saham menjadi penopang pada hari Senin setelah merilis laporan keuangan, sehingga membantu mendukung risk appetite.
Penjualan yang mengalahkan perkiraan dari H&M mengirim saham naik 16,6%. Ini menjadi hasil yang menggembirakan bagi peritel fesyen terbesar kedua di dunia yang sahamnya masih turun sepertiga dari nilainya di tahun lalu.


Sementara itu, saham Credit Suisse naik 0,6% setelah regulator Swiss Finma mengatakan perusahaan telah gagal dalam tugasnya untuk memerangi korupsi dalam kasus-kasus yang terkait dengan FIFA dan perusahaan minyak negara di Venezuela dan Brasil.

Sunday, September 16, 2018

Kekhawatiran Perdagangan Kembali Meningkat, Bursa Asia Diperkirakan Melemah
PT KONTAK PERKASA FUTURES – Bursa saham di Asia diperkirakan mengawali pekan ini bawah tekanan menyusul langkah terakhir AS untuk mengenakan tarif lebih lanjut pada barang-barang impor asal China.
Dilansir Bloomberg, kontrak berjangka pada indeks saham di Hong Kong dan China mengisyaratkan penurunan, dengan pasar Jepang ditutup karena libur nasional.
Sementara itu, Hong Kong menurunkan rating untuk badai topan Mangkhut ke tingkat yang memungkinkan bursa saham untuk membuka kembali perdagangan seperti biasa.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menginstruksikan para pejabatnya untuk melanjutkan pengenaan tarif sekitar US$200 miliar terhadap produk-produk China. Adapun indeks S&P 500 AS ditutup cenderung stagnan pada Jumat karena saham finansial dan energi naik, sementara imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun mencapai 3% pada Jumat pekan lalu.
Bursa saham di Asia telah melakukan upaya untuk rebound pada akhir pekan lalu di tengah harapan bahwa AS dan China akan memasuki masa pembicaraan dan menenangkan kekhawatiran perdagangan.
Namun, kekhawatiran kembali meningkat pada Jumat ketika salah seorang sumber mengatakan kepada Bloomberg bahwa Trump memberi instruksi untuk melanjutkan pengenaan tarif meskipun ada upaya dari menteri keuangan untuk memulai kembali pembicaraan dengan Beijing untuk menyelesaikan perang perdagangan.
Di sisi lain, China sedang mempertimbangkan untuk menolak tawaran pembicaraan perdagangan pemerintah Trump akhir bulan ini setelah adanya ancaman baru terhadap tarif impor dari Washington, Wall Street Journal melaporkan seperti dikutip Bloomberg.

BACA JUGA : 

Agustus, Penjualan Indocement (INTP) Tumbuh 1%

PT KONTAK PERKASA FUTURES 

Thursday, September 13, 2018

Ini Alasan Obligasi Valas Pemerintah Lebih Stabil

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 10:58 PM No comments
Ini Alasan Obligasi Valas Pemerintah Lebih Stabil
PT KONTAK PERKASA -  Surat utang pemerintah Indonesia berdenominasi dolar Amerika Serikat masih relatif bertahan di tengah gejolak pasar global saat ini, menandakan kepercayaan investor secara umum masih tinggi terhadap Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga Kamis (13/9), yield surat utang negara (SUN) berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun atau INDO28 berada pada posisi 4,53%. Yield ini sudah meningkat 100,6 bps dari posisi akhir tahun lalu. Secara persentase, peningkatan yield ini mencapai 28,5% secara year-to-date (ytd).

Peningkatan yield ini lebih rendah dibandingkan dengan yang terjadi pada instrumen SUN berdenominasi rupiah tenor 10 tahun seri FR0064 yang sepanjang tahun ini sudah meningkat 201,3 bps ke posisi 8,48%. Peningkatan ini setara 31% ytd.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa peningkatan yield INDO28 tidak setinggi FR0064 karena obligasi global pemerintah tidak terpapar risiko kurs. Peningkatan yield pada seri rupiah adalah untuk mengompensasi pelemahan kurs.

Sepanjang tahun berjalan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah melemah 9,89% sehingga kini berada pada posisi Rp14.840 per dolar AS. Meskipun tidak terpapar faktor kurs, tetapi tidak berarti INDO28 bebas sentimen negatif.

Volatilitas pasar global yang meningkat akibat berbagai faktor seperti perang dagang, krisis sejumlah negara berkembang, pemulihan ekonomi AS, menyebabkan derasnya arus modal keluar dari negara berkembang.

Di sisi lain, Indonesia juga masih menghadapi defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan yang lebar. Secara total, faktor-faktor tersebut meningkatkan persepsi resiko investasi Indonesia, tercermin dari kian tingginya angka credit default swap (CDS).

Berdasarkan data Bloomberg, CDS 5 tahun Indonesia sudah meningkat 63,93% sepanjang tahun berjalan, dari posisi 86,90 menjadi 142,46 pada Kamis (13/9). Posisi CDS Indonesia bahkan sempat menyentuh 150,81 pada Rabu (5/9) pekan lalu.

“Tren dolar yang menguat saat ini memang menyebabkan risiko lebih besar pada obligasi berdenominasi rupiah, sehingga investor asing merasa lebih aman pada obligasi valas walaupun sama-sama berisiko. Di obligasi valas, investor hanya memperhatikan CDS saja,” katanya, Rabu (12/9).

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa peningkatan CDS tahun ini yang paling jauh baru pada level 150 atau masih sangat aman bagi Indonesia. Level CDS boleh dianggap menghawatirkan bila sudah mencapai level 250 atau 300.

Di sisi lain, pelemahan yang terjadi pada nilai tukar rupiah selama ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksnternal. Secara umum, data fundamental Indonesia seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan defisit anggaran masih sangat sehat.

“Global bond kita tetap kuat karena investor belum melihat adanya pelemahan yang signifkan dari fundamental Indonesia, sehingga masih oke bagi mereka untuk investasi di sini,” katanya. 

Selain itu, yield US Treasury juga sejauh ini tidak terlalu lama bertahan di atas level 3%, tetapi cenderung selalu turun kembali. Kemarin, yield US Treasury 10 tahun ditutup di level

Siswa Rizali, Presiden Direktur Asanusa Asset Management, mengatakan bahwa di tengah kondisi global yang belum stabil, investor asing cenderung keluar dari semua negara berkembang. Selanjutnya, mereka mulai mengamati negara-negara berkembang yang lebih solid dan memiliki daya tahan lebih baik. 

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu yang masih menarik. Hanya saja, investor asing saat ini tidak cukup berani untuk masuk ke instrumen berdenominasi rupiah meskipun yieldnya tinggi, sebab risiko kurs sulit diukur. Alhasil, pilihan paling menarik adalah pada seri berdenominasi dolar.

Menurutnya, hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan harga atau peningkatan yield pada INDO28 dan obligasi global pemerintah lainnya tidak setajam SUN berdenominasi rupiah saat ini. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, posisi kepemilikan investor asing pada surat berharga negara (SBN) domestik tercatatnet sell Rp900 miliar per Rabu (12/9) dibandingkan akhir tahun lalu.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director FixedIncome Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa secara umum karakter investor di pasar surat utang negara berdenominasi asing tidak sesensitif seperti pasar dalam negeri.

Di dalam negeri, investor domestik cenderung menyimpan obligasi negara untuk jangka panjang atau hingga jatuh tempo, sementara investor asingnya cenderung banyak bermain di pasar sekunder. Alhasil, pergerakan harga sangat dipengaruhi oleh dinamika investor asing. 

Sementara itu, di pasar obligasi valas secara umum cenderun lebih stabil sehingga investor justru banyak mencarinya ketika situasi pasar sedang bergejolak. Apalagi, Indonesia saat ini sudah memiliki peringkat layak investasi penuh dari seluruh lembaga pemeringkat utama dunia.

“Yield obligasi valas kita cukup tinggi di luar dan stabil. Walaupun tertekan, itu hanya karena faktor pasar saja. Ini menjadikan insturmen surat utang valas pemerintah ini menarik,” katanya.




Wednesday, September 12, 2018

Harga Minyak Dongkrak Bursa Eropa

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 6:52 PM No comments
Harga Minyak Dongkrak Bursa Eropa
KONTAK PERKASA FUTURES - Penguatan harga minyak dan saham pertambangan mendorong bursa saham Eropa naik pada perdagangan Rabu (12/9/2018).
Indeks Stoxx 600 naik 0,5%, meskipun bursa saham Asia melemah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan sikap keras AS terhadap dengan China dalam hal perdagangan.
Saham perusahaan minyak naik 1,6% setelah harga Brent mencapai level US$$80 per barel menyusul penurunan persediaan minyak mentah AS dan saat sanksi terhadap Iran menambah kekhawatiran seputar pasokan global. Saham pertambangan pun naik 1,3%.
“Kami pikir ada kemungkinan bahwa aksi jual pasar ekuitas, terutama di zona waktu Eropa, akan melambat atau bahkan berbalik untuk sementara,” terang pakar strategi RBC, seperti dikutip Reuters.
“Sementara 'gesekan perdagangan' dan persepsi melambatnya pasar Asia sebagai akibatnya terlihat, tampaknya ada banyak pembelian untuk aset risiko pada tahap ini juga,” lanjutnya.
Saham perusahaan bioteknologi Belanda, Galapagos, melonjak 17,6% setelah hasil uji coba positif untuk obat perawatan rheumatoid arthritis.
Saham pemilik Zara, Inditex, naik 4,1% setelah peritel fesyen ini mengatakan pihaknya memperkirakan pertumbuhan margin laba di paruh kedua.
Saham Salvatore Ferragamo naik 4,1% di tengah spekulasi rumor kemungkinan pengambilalihan. Namun keluarga yang mengendalikan kelompok mode ini tidak tertarik untuk menjual sahamnya, menurut juru bicara grup itu.
Adapun saham Hermes naik 4% setelah produsen tas asal Prancis ini melaporkan rekor margin untuk paruh pertama. "Hermes menyampaikan serangkaian hasil yang solid. Yang penting, perusahaan mencatat kontribusi positif terhadap laba dari permintaan yang kuat di China," tulis analis Berenberg.
BACA JUGA : 

Saham Apple Terpeleset Setelah Rilis Produk, Nasdaq Turun

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search