English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Thursday, November 8, 2018

Harga Minyak Masuki Kondisi Bearish, Ancaman Oversupply Desak OPEC

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 9:53 PM No comments


KONTAK PERKASA FUTURES - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) tersungkur memasuki kondisi pasar yang bearish. Hal ini menambahkan tekanan pada OPEC dan sekutu-sekutunya untuk kembali memangkas produksi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember mengakhiri sesi perdagangan Kamis (8/11/2018) dengan pelemahan sekitar 1,6% atau US$1 di level US$60,67 per barel di New York Mercantile Exchange.
Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 37% di atas rata-rata 100 hari. Dengan demikian, harga minyak AS telah turun untuk hari kesembilan berturut-turut, rentetan pelemahan terpanjang sejak 2014.

Minyak WTI memperpanjang penurunan dari level tertingginya pada Oktober menjadi lebih dari 20%, memenuhi definisi yang biasa ditemui dalam pasar yang bearish. WTI berhasil menyentuh level US$76,41 pada 3 Oktober.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari merosot US$1,42 dan berakhir di level US$70,65 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London pada Kamis. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$9,79 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Peningkatan persediaan minyak mentah yang lebih cepat dari perkiraan telah memupuskan harapan spekulan bahwa harga bisa mencapai level US$100.

Produksi minyak mentah AS telah berakselerasi ke rekor baru, produksi OPEC mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun, sedangkan keringanan yang diberikan pemerintah AS kepada sejumlah negara akan memungkinkan sebagian minyak mentah Iran tetap mengalir ke pasar meskipun mendapatkan sanksi AS.

“Sentimen telah bergeser," ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities di Toronto, seperti dikutip Bloomberg.

“OPEC telah menempatkan lebih banyak minyak mentah dari yang kami duga dan di atas semua itu, keringanan ini [dari pemerintah AS] menjadi penghalang terhadap dukungan harga.”


Penurunan harga minyak dari level tertingginya dalam empat tahun telah dipicu oleh kekhawatiran bahwa goyahnya ekonomi pasar negara berkembang dan perang perdagangan AS-China akan mengurangi permintaan bahan bakar seiring dengan tumbuhnya pasokan dari berbagai arah.

Selama beberapa bulan terakhir, OPEC telah meningkatkan produksi di tengah seruan dari Presiden AS Donald Trump untuk mengimbangi penurunan dalam pengiriman Iran. Pada Oktober, produksi minyak mentah OPEC mencapai level tertinggi sejak 2016 dan Rusia menaikkan output ke rekornya sebesar hampir 11,41 juta barel per hari.

Dengan menjulangnya kelebihan pasokan, upaya pemangkasan produksi mungkin akan kembali dilakukan. Para menteri dan sekutu OPEC diinformasikan akan bertemu di Abu Dhabi akhir pekan ini untuk membahas berbagai skenario termasuk opsi untuk memangkas produksi lagi tahun depan.


Wednesday, November 7, 2018

Stok AS Tambah Bengkak, Harga Minyak Terus Turun

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 6:11 PM No comments


PT KONTAK PERKASA  - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) terus turun ke level terendahnya sejak Maret, setelah laporan pemerintah AS menunjukkan peningkatan mingguan ketujuh berturut-turut dalam stok minyak mentah domestik dan lonjakan dalam produksi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember mengakhiri sesi perdagangan Rabu (7/11/2018) dengan melemah 0,9% atau 54 sen di level US$61,67 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 57% di atas rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari turun tipis 6 sen dan berakhir di level US$72,07 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London pada Selasa. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$10,25 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, harga minyak di New York menambah rentetan penurunan terpanjangnya sejak 2014, setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan kenaikan persediaan minyak mentah AS sebesar 5,78 juta barel pekan lalu.

EIA juga melaporkan lonjakan produksi minyak mentah domestik ke rekornya yakni 11,6 juta barel per hari, sedangkan stok di Cushing, Oklahoma, meningkat sebesar 2,42 juta barel.

Padahal harga minyak sempat naik pada awal sesi didukung laporan bahwa OPEC dan sekutu-sekutunya sedang mempertimbangkan langkah baru terkait pemangkasan produksi.

“Pada dasarnya, terlalu banyak persediaan dan terlalu cepat,” kata Rob Thummel, managing director di Tortoise, yang mengelola aset-aset terkait energi senilai US$16 miliar.


“Itu membuat pasar kewalahan dan mengambil beberapa momentum dari harga minyak mentah. OPEC mungkin harus menilai ulang dan mempertimbangkan pemangkasan produksi untuk 2019 di titik ini.”

Harga minyak acuan AS berada di wilayah pasar yang bearish setelah diperdagangkan di atas US$76 per barel pada awal Oktober. Dengan ini, harga minyak telah turun selama delapan hari berturut-turut.

Para Menteri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan berkumpul di Abu Dhabi akhir pekan ini guna membahas opsi untuk 2019, termasuk kemungkinan pemangkasan produksi lagi tahun depan.

Sementara itu, pemerintah AS memperkirakan bahwa produksi minyaknya sendiri akan meningkat dengan laju tercepatnya tahun ini. 

“Penurunan ini telah cukup bertahan dan tak henti-hentinya,” kata Rob Haworth dari US Bank Wealth Management di Seattle. "Secara teknis, investor bertanya-tanya di titik mana ini akan berhenti.”

Tuesday, November 6, 2018

Optimisme Hasil Pemilu Paruh Waktu AS Kerek Wall Street

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 4:57 PM No comments

KONTAK PERKASA FUTURES - Pergerakan tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) berhasil menguat di wilayah positif pada perdagangan Selasa (6/11/2018).

Hal itu seiring dengan ekspektasi investor bahwa hasil pemilu paruh waktu akan memberikan kelegaan bagi saham setelah ketidakpastian yang berkepanjangan.

Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,63% atau 17,14 poin di 2.755,45, indeks Dow Jones Industrial Average menanjak 0,68% atau 173,31 poin di level 25.635,01, dan indeks Nasdaq Composite berakhir naik 0,64% atau 47,11 poin di level 7.375,96.

Beberapa saham seperti CVS Health Corp dan Mylan NV didorong oleh laporan kinerja keuangan yang kuat. Meski demikian, volume perdagangan relatif tipis karena banyak investor menahan diri untuk membuat pertaruhan besar apabila hasil pemilu nanti mengejutkan.

Wall Street telah memperkirakan bahwa Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump akan kehilangan kendali di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), walaupun mempertahankan dominasinya di Senat.

“Masih ada pemikiran dalam para pelaku pasar bahwa mungkin akan ada kejutan. Kebanyakan orang menunggu untuk melihat apa hasilnya sebelum mereka membuat keputusan investasi besar,” ujar Mona Mahajan, Pakar Strategi Investasi AS, Allianz Global Investors, New York.

Sejumlah investor mengatakan mereka memperkirakan adanya aksi jual yang tajam, setidaknya dalam waktu dekat, jika Partai Demokrat menguasai kendali baik di DPR maupun Senat.

Sebaliknya, bursa saham dapat rally didorong ekspektasi pemangkasan pajak lebih lanjut jika kubu Republik mempertahankan kendali di DPR. Yang lainnya berharap bahwa hilangnya ketidakpastian tentang pemilu akan menciptakan dorongan yang baik.

“Apa yang saya perhatikan selama beberapa pekan terakhir adalah kembalinya pelaku pasar. Setelah kami melewati pemilu paruh waktu, saham biasanya naik, apa pun hasilnya, dan Anda pun melakukan pembelian," kata Jason Ware, kepala investasi di Albion Financial, seperti dikutip Reuters.

Seluruh 11 sektor utama dalam S&P menunjukkan kenaikan, dipimpin sektor indeks material yang naik sebesar 1,5%, didukung laporan kinerja keuangan.

Saham perusahaan pupuk Mosaic Co naik 10,6% dan produsen bahan bangunan Martin Marietta Materials Inc naik 8,4% setelah melaporkan kinerja yang kuat.

Sektor industri yang sensitif terhadap isu perdagangan juga ditutup naik 1,1% setelah Wakil Presiden China Wang Qishan menyatakan China siap untuk mengadakan diskusi dan bekerja sama dengan AS untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan.

“Di luar pemilu paruh waktu, yang telah diperhitungkan, kami telah melihat beberapa tanda umum negosiasi perdagangan AS-China yang membantu sentimen,” kata Ryan Larson, kepala perdagangan ekuitas AS di RBC Global Asset Management di Chicago.


Monday, November 5, 2018

Hasil Stress Test Perbankan Tak Mengejutkan, Bursa Eropa Turun Tipis

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 4:51 PM No comments

PT KONTAK PERKASA - Bursa saham Eropa berakhir di posisi lebih rendah pada perdagangan Senin (5/11/2018), terbebani keresahan investor seputar laju kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) dan perselisihan perdagangan AS-China.
Berdasarkan data Reuters, pergerakan indeks saham Stoxx 600 Eropa ditutup turun 0,1%, dengan mayoritas indeks berada di kisaran level netral.
Para pedagang juga mengambil sikap hati-hati menjelang diselenggarakannya pemilu paruh waktu di AS pada Selasa (6/11) waktu setempat, seperti halnya ketidakpastian mengenai harapan baru dari terobosan dalam negosiasi Brexit.
Sementara itu, hasil dari stress test perbankan di Eropa memberi dampak kecil, dengan sektor ini berakhir turun 0,4%.
“Hasilnya tidak memberikan kejutan dan kami memperkirakan sedikit reaksi dalam pasar,” tulis analis Jefferies dalam risetnya, seperti dikutip Reuters.
Saham Barclays asal Inggris dan Societe Generale asal Perancis masing-masing berakhir turun 0,5% dan naik 0,3%.
Bagaimanapun, indeks perbankan di Italia turun 1,6% setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat BPER dan Intesa Sanpaolo menjadi "sell". Saham masing-masing perusahaan turun 3,4% dan 1,5%.
Saham dengan persentase penurunan terbesar dalam Stoxx 600 adalah Grenke yang turun 9% setelah perusahaan ini menyatakan mungkin tidak akan mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan dalam bisnis leasing intinya.
Di sisi lain, saham perusahaan minyak dan gas asal Belanda Vopak naik 5%, sedangkan saham Siemens Healthcare naik 2,8% setelah memproyeksikan kinerja keuangan yang lebih tinggi untuk tahun depan.

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search