English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Monday, June 17, 2019

Harga Minyak Turun Dipicu Melemahnya Data Ekonomi China

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 5:29 PM No comments

KONTAK PERKASA FUTURES  - Harga minyak turun lebih dari 1 persen pada hari Senin (Selasa pagi WIB) seiring memburuknya angka ekonomi China yang memicu kekhawatiran turunnya permintaan minyak dunia.

Dilansir dari Reuters, Selasa (18/6/2019), harga minyak mentah berjangka jenis Brent turun USD 1,07 menjadi USD 60,94 per barel, melemah 1,73 persen. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD 58 sen atau 1,1 persen menjadi USD 51,93 per barel.

Harga minyak telah turun sekitar 20 perseb sejak menyentuh level tertinggi 2019 pada bulan April, sebagian besar disebabkan kekhawatiran tentang perang dagang AS-China dan data ekonomi yang mengecewakan.

Produksi industri China tumbuh 5 persen pada Mei 2019. Angka itu secara tak terduga melambat ke level terendah lebih dari 17 tahun, data dari Biro Statistik Nasional menunjukkan pada hari Jumat.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dapat bertemu di KTT G20 di Jepang akhir bulan ini. Trump mengatakan dia akan bertemu dengan Xi di KTT, meskipun China belum mengkonfirmasi pertemuan itu.

Bank of America Merrill Lynch menurunkan perkiraan harga Brent menjadi USD 63 per barel dari USD 68 per barel untuk paruh kedua 2019 di tengah permintaan yang goyah.

Kekhawatiran tetap tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan minggu lalu terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman. Amerika Serikat menyalahkan serangan terhadap Iran tetapi Teheran membantah terlibat.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan pada hari Senin bahwa negara-negara perlu bekerja sama untuk menjaga jalur pelayaran terbuka untuk minyak dan pasokan energi lainnya untuk memastikan pasokan yang stabil.

Pelaku pasar juga menunggu pertemuan antara Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen lain termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, untuk memutuskan apakah akan memperpanjang perjanjian pemangkasan produksi yang berakhir bulan ini. Keputusan ini akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan harga minyak.

 
 
Harga Minyak

Sunday, June 16, 2019

RI Sulit Ambil Untung dari Perang Dagang AS-China

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 10:53 PM No comments

PT KONTAK PERKASA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China masih menjadi tantangan untuk ekonomi global. Saat ini banyak negara-negara lain justru cemas karena perseteruan kedua negara ini. Namun Vietnam berhasil meraup peluang ekonomi atas situasi yang terjadi.
Lantas bagaimana peluang Indonesia di tengah kondisi perang dagang saat ini?

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah mengakui Indonesia masih cukup sulit untuk mencuri peluang dari perang dagang antara AS dan China. Sebab, di tengah gesekan antar kedua negara tersebut, Indonesia harus memacu ekspornya untuk tetap tumbuh.

"Jujur saja kita sangat sulit memanfaatkan perang dagang. Peluang dari perang dagang tidak mudah bukan tidak mungkin," katanya saat dihubungi merdeka.com, Senin (17/6).

Piter menyebut salah satu peluang yang bisa diambil Indonesia yakni memacu laju ekspor. Sementara, yang diperlukan di tengah bergulirnya perang dagang menurut dia adalah dengan menggenjot produk-produk manufaktur. Sedangkan, pertumbuhan manufaktur secara nasional masih jauh dari harapan.

"Kita harus jujur bahwasanya manufaktur itu kita tinggalkan selama ini, pertumbuhan manufaktur kita selama beberapa tahun terakhir di bawah 5 persen. kontribusi manufaktur kita terus turun," katanya.

Oleh karenanya, dia meminta pemerintah tidak menjadikan produk manufaktur sebagai ujung tombak di tengah kondisi perang dagang saat ini. Sebab tidak mungkin memacu manufaktur dalam waktu singkat.

"Pun tidak bisa itu dalam waktu singkat kita ubah (manufaktur) menjadi itu andalan kita. Itu harus kita sadari. Ujug-ujug kita lompat menjadi negara ekspor barang-barang manufaktur tidak mungkin itu," ujarnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra
Sumber: Merdeka.com

Thursday, June 13, 2019

Serangan Tanker di Teluk Osman Dorong Harga Minyak Naik

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 6:26 PM No comments

PT KONTAK PERKASA FUTURES  - Harga minyak naik 2,2 persen setelah terjadinya serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman. Serangan memicu kekhawatiran berkurangnya aliran minyak mentah melalui salah satu rute pengiriman utama dunia.
Melansir laman Reuters, Jumat (14/6/2019), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup naik USD 1,34, atau 2,23 persen menjadi USD 61,31, setelah naik sebanyak 4,5 persen menjadi USD 62,64..
Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS naik USD 1,14, atau 2,23 persen menjadi USD 52,28 per barel. WTI sebelumnya naik sebanyak 4,5 persen menjadi USD 53,45.
Serangan di dekat Iran dan Selat Hormuz menyalakan kembali kekhawatiran tentang dampak dari Timur Tengah. Dampak jika perusahaan asuransi mulai mengurangi cakupan untuk perjalanan melalui wilayah tersebut dan perusahaan pelayaran menunda tambahan pemesanan baru.
"Gangguan (serangan) seperti itu dapat semakin memperburuk masalah pasokan (minyak)," kata Andy Lipow, Analis Lipow Oil Associates di Houston.
Diketahui akibat serangan, pemilik kapal tanker minyak DHT Holdings dan Heidmar menangguhkan pemesanan baru ke Teluk Timur Tengah.
"Ini adalah serangan kedua dalam waktu satu bulan," kata John Kilduff, Mitra Again Capital LLC di New York.
 Ketegangan di Timur Tengah telah meningkat sejak Presiden AS Donald Trump menarik diri dari pakta nuklir multinasional 2015 dengan Iran dan menerapkan kembali sanksi, terutama menargetkan ekspor minyak Teheran.
Iran, yang menjauhkan diri dari serangan sebelumnya, mengatakan tidak akan takut dengan apa yang disebut perang psikologis.
Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran akan konfrontasi baru antara Iran dan Amerika Serikat, yang menyalahkan Teheran atas insiden tersebut.
Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengatakan Amerika Serikat telah menilai Iran berada di balik serangan. Ini mengacu pada laporan intelijen, senjata yang digunakan, dan tingkat keahlian yang diperlukan untuk serangan terhadap tanker di Teluk Oman.
Hal lain yang mendukung harga minyak adalah tanda-tanda bahwa anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) hampir menyetujui untuk melanjutkan pemotongan produksi.
Harga Minyak

Cadangan Devisa RI Turun Jadi USD 120,3 Miliar pada Mei 2019

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 2:16 AM No comments

PT KONTAK PERKASA  - Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia sebesar USD 120,3 miliar pada akhir Mei 2019. Posisi cadangan devisa ini turun USD 4 miliar dari posisi akhir April 2019 sebesar USD 124,3 miliar.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
"BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, demikian kutip dari laman BI, Kamis (13/6/2019).
Penurunan cadangan devisa pada Mei 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan diBI sebagai antisipasi kebutuhan likuiditas valas terkait siklus pembayaran dividen beberapa perusahaan asing dan menjelang libur panjang Lebaran.
"Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilistas dan prospek ekonomi yang tetap baik,” kata Onny.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2019 sebesar USD 124,3 miliar, turun tipis dibandingkan dengan posisi pada akhir Maret 2019 sebesar USD 124,5 miliar.
"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 Mei 2019.
Ia melanjutkan, BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Posisi cadangan devisa pada April 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, penerimaan valas lainnya, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik.

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search