English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
STRIVE FOR SOLID FUTURES

Tuesday, January 15, 2019

Harapan Stimulus Ekonomi China Dorong Bursa Eropa Naik

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 6:41 PM No comments

PT KONTAK PERKASA - Bursa saham Eropa berhasil naik pada perdagangan Selasa (15/1/2019) setelah China mengisyaratkan langkah-langkah stimulus lebih lanjut untuk membendung dampak pukulan perang tarif dengan Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx 600 Eropa ditutup naik 0,4%, sedangkan indeks DAX Jerman bertambah hanya 0,3% setelah data PDB menunjukkan ekonomi Jerman tumbuh 1,5% pada 2018, laju terlemah dalam lima tahun.
Di Inggris, indeks FTSE 100 yang berorientasi pada ekspor menguat 0,6% dan indeks mid cap yang terfokus di dalam negeri naik 0,1% ketika Perdana Menteri Theresa May menghadapi prospek kekalahan bersejarah dalam pengambilan suara mengenai kesepakatan Brexit di parlemen Inggris.
“Akan ada banyak volatilitas tetapi bagaimanapun saya berharap hal-hal akan berjalan ke arah Brexit yang lebih lunak,” kata Michele Pedroni, fund manager di Decalia Asset Management, seperti dilansir Reuters.
Sektor-sektor yang bergantung pada perdagangan dan ekspor ke China, seperti teknologi, industri, dan otomotif menguat pada Selasa meskipun mengikis sebagian kenaikannya setelah pembukaan.
Pemerintah China dikabarkan akan mengambil langkah-langkah stimulus, termasuk memangkas pajak, demi mengatasi ekonominya yang melambat. Namun beberapa investor ragu bahwa stimulus ini akan berdampak besar pada eksportir Eropa.
"Untuk memberikan dorongan nyata bagi para eksportir Eropa, kita akan membutuhkan lebih dari sekadar pengumuman pemotongan pajak, kita akan membutuhkan komitmen untuk investasi infrastruktur (dari China)," kata Martin Moeller, co-head manajemen portofolio ekuitas Swiss dan global di Union Bancaire Privee di Jenewa.
Sektor otomotif melonjak ke level tertingginya sejak 5 Desember didorong kabar stimulus tersebut serta setelah update yang kuat dari produsen Peugeot PSA Group menenangkan kekhawatiran investor tentang dampak perlambatan permintaan di China terhadap produsen mobil.
Saham produsen mobil asal Prancis tersebut mencapai level tertingginya sejak pertengahan November setelah melaporkan rekor penjualan untuk 2018 dan berakhir naik 1,3%.


Friday, January 11, 2019

Dolar AS Loyo, Rupiah Menguat Bersama Mayoritas Kurs Asia

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 5:26 AM No comments

PT KONTAK PERKASA FUTURES - Rupiah kembali ke zona hijau pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (11/1/2019), setelah berfluktuasi sepanjang perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.048 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan Kamis (10/1/2019) saat ditutup menguat 72 poin ke level Rp14.053 per dolar AS.

Rupiah berfluktuasi pada perdagangan hari ini setelah dibuka melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.073 per dolar AS. Sepanjang perdagangan rupiah bergerak pada kisaran Rp14.029-Rp14.084 per dolar AS.

Rupiah menguat di saat mayoritas mata uang lainnya di Asia juga terapresiasi. Menempati posisi terkuat terhadap dolar AS adalah yuan China yang menguat 0,74%, disusul peso Filipina yang naik 0,26%.

Penguatan mayoritas mata uang Asia ini menyusul tertekannya dolar AS karena keyakinan bahwa Federal Reserve AS akan menghentikan siklus pengetatan suku bunganya tahun ini.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia melemah 0,19% atau 0,178 poin ke level 95,361 pada pukul 17.37 WIB.

Indeks dolar kembali bergerak di zona merah dengan dibuka turun 0,100 poin atau 0,10% di level 95,439 pagi ini, setelah pada perdagangan Kamis (10/1) mampu rebound dan berakhir menguat 0,34% atau 0,320 poin di posisi 95,539.

Dilansir Reuters, Gubernur The Fed Jerome Powell pada Kamis (10/1) menegaskan kembali pandangan bahwa bank sentral AS tersebut memiliki kemampuan untuk bersabar dalam kebijakan moneter mengingat inflasi tetap stabil.

Powell juga menurunkan prediksi pejabat The Fed Desember lalu yang menunjukkan bahwa suku bunga akan dinaikkan sebanyak dua kali tahun ini.

"Tidak ada jalur yang ditetapkan sebelumnya untuk suku bunga, terutama saat ini. Jika pertumbuhan global melambat, Saya dapat meyakinkan Anda ... kami dapat secara fleksibel dan cepat mengalihkan kebijakan, dan kami dapat melakukannya secara signifikan jika itu sesuai,” ungkap Powell.

Senada dengan Powell, Wakil Gubernur The Fed Richard Clarida juga menyampaikan pandangan yang bernada dovish. Ia menggarisbawahi kesediaan bank sentral AS ini untuk tetap bersabar terkait kenaikan suku bunga.

"Pasar hampir memperhitungkan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. Untuk dolar AS yang lebih lemah, pasar kini akan mengharapkan penurunan suku bunga. Saya rasa itu tidak terjadi,” kata Sim Moh Siong, analis valas di Bank of Singapore.


Wednesday, January 9, 2019

Saham Eksportir Reli, Indeks Stoxx Ditutup Menguat

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 5:33 PM No comments

PT KONTAK PERKASA - Bursa saham Eropa menguat pada perdagangan Rabu (9/1/2019), seiring meningkatnya optimisme bahwa Amerika Serikat dan China dapat menghindari perang dagang besar-besaran yang akan memperburuk pelambatan ekonomi global.
Indeks Stoxx Europe 600 mencapai level tertinggi dalam tiga pekan pada sesi perdagangan awal sebelum memangkas kenaikan dan ditutup menguat 0,5%, didorong oleh sektor otomotif dan teknologi yang berorientasi ekspor.
Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris menyentuh level tertinggi lima pekan, mengakhiri hari dengan penguatan 0,7%, sedangkan indeks DAX Jerman menguat 0,8%.
"Skenarionya adalah perlambatan ekonomi tetapi saya berharap segalanya akan membaik secara bertahap setelah 2018 yang didominasi oleh tarif dan retorika komersial yang sangat keras," kata Roberto Lottici, fund manager di Banca Ifigest Italia, seperti dikutip Reuters.
Tim China dan AS mengakhiri pembicaraan perdagangan di Beijing pada hari Rabu, pertemuan hari ketiga yang tidak dijadwalkan sebelumnya.
Tetapi pernyataan perwakilan perdagangan AS mengurangi kegembiraan investor dan mengirim saham ke level terendahnya dalam satu hari.
Kantor Perwakilan Perdagangan AS mengatakan China berjanji untuk membeli "sejumlah besar" barang-barang pertanian, energi, dan barang-barang manufaktur dan jasa dari AS.
Bursa Eropa mencatat tahun terburuk dalam satu dekade pada tahun 2018 tetapi sepanjang tahun ini telah menguat 3%. Kesepakatan perdagangan dapat membuat investor lebih optimis terhadap pendapatan perusahaan saat musim laporan kinerja kuartal keempat berlangsung.
"Secara teknikal, kami pikir pasar terlihat sangat sangat oversold pada dua pekan lalu yang memberikan sinyal beli yang cukup baik dan saya pikir itulah yang terjadi sekarang," kata Emmanuel Cau, kepala strategi ekuitas Eropa di Barclays.
Sektor otomotif pada indeks Stoxx menguat 2,4% dan menjadikan pendorong utama secara sektoral. Saham Daimler dan BMW, yang keduanya memproduksi mobil di AS untuk pasar China, masing-masing naik 3% dan 1%.
Sementara itu, saham Fiat Chrysler menguat 2,9% menyusul laporan Reuters bahwa produsen mobil Italia-Amerika tersebut akan mencapai penyelesaian dalam tuduhan AS mengenai kasus emisi diesel.
Sementara itu, sektor teknologi menguat 2,2% karena suasana optimis di sekitar perdagangan membantu investor mengabaikan laporan bahwa raksasa teknologi AS Apple telah memangkas produksi kuartal pertama yang direncanakan untuk tiga produk iPhone barunya.

Tuesday, January 8, 2019

Penguatan Rupiah Bakal Dorong SUN Positif

Posted by PT KONTAK PERKASA FUTURES BALIKPAPAN On 9:08 PM No comments

KONTAK PERKASA FUTURES - Pada perdagangan hari ini, Rabu (9/1/2019) MNC Sekuritas memperkirakan penguatan harga Surat Utang Negara masih terus berlanjut yang didorong oleh faktor pergerakan nilai tukar rupiah.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan arah pergerakan nilai tukar rupiah masih akan mempengaruhi arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder.

Dengan terbukanya peluang koreksi harga, Made menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder.

Arah pergerakan nilai tukar rupiah masih akan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder.

"Bagi investor dengan time frame jangka panjang seperti dana pensiun dan asuransi jiwa, kami menyarankan strategi pembelian secara bertahap apabila harga Surat Utang Negara kembali mengalami penurunan," katanya dalam riset harian, Rabu (9/1/2019).


Made mengatakan, pilihannya adalah pada seri Surat Utang Negara yang memiliki tingkat imbal hasil yang cukup tinggi dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan seri lainnya yaitu: FR0053, FR0056, FR0071, FR0067, dan FR0057.

Review (Selasa, 8 Januari 2019)

Penurunan harga terjadi pada perdagangan hari Selasa, 8 Januari 2019 dengan rata-rata penurunan harganya sebesar 15 bps sehingga berdampak kepada kenaikan imbal hasilnya hingga sebesar 9 bps dengan rata-rata kenaikan imbal hasil sebesar 3 bps. 

Harga Surat Utang Negara bertenor pendek mengalami penurunan hingga sebesar 18 bps sehingga mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil 9 bps. 

Sementara itu, harga Surat Utang Negara bertenor menengah mengalami penurunan sebesar 20 bps hingga 34 bps yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasil yang berkisar antara 4 bps hingga 7 bps. 

Sedangkan untuk Surat Utang Negara bertenor panjang mengalami penurunan harga rata-rata sebesar 15 bps yang telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil hingga sebesar 7 bps. 

Seri acuan dengan bertenor 5 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 7 bps di level 7,824% dan pada tenor 10  tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 6 bps di level 7,904%. 

Sedangkan kenaikan imbal hasil sebesar 7 bps didapati pada seri acuan bertenor 15 tahun di level 8,235% dan kenaikan sebesar imbal hasil sebesar 4 bps didapati pada seri acuan bertenor 20 tahun di level 8,313%.

Penurunan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin didorong oleh pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika. 

Pada awal perdagangan, imbal hasil Surat Utang Negara cenderung mengalami penurunan di tengah penguatan harga yang terjadi di pasar sekunder seiring dengan nilai tukar rupiah yang dibuka menguat terhadap dollar Amerika di posisi 14073 per dollar Amerika. 

Bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan harga Surat Utang Negara di sepanjang sesi perdagangan, harga Surat Utang negara mulai menunjukkan perubahan arah menjadi turun mendekati berakhirnya sesi perdagangan yang diakibatkan semakin kuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang justru berbalik dengan mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika di akhir sesi perdagangan. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin terlihat sedikit menurun dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya. 

Obligasi Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp 1,934 triliun dari 89 transaksi dengan harga tertinggi 103,20% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara dengan seri FR0053 senilai Rp1,382 triliun dari 11 transaksi di tutup dengan harga 101,39%. 


Adapun Sukuk Negara Retail dengan seri SR010 menjadi sukuk negara dengan volume perdagangan terbesar yaitu Rp552,95 miliar dari 16 transaksi dengan harga tertinggi 96,10% dan diikuti perdagangan Project Based Sukuk seri PBS0016 dengan volume perdagangan sebesar Rp223 miliar dari 6 transaksi dengan rata-rata harga pada level 74,74%.

Adapun volume perdagangan surat utang korporasi obligasi TUFI04ACN1 tercatat surat utang korporasi yang memiliki volume paling besar yaitu sebesar Rp250 miliar dengan 6 kali transaksi pada harga tertinggi sebesar 100,00% dan diikuti oleh Obligasi korporasi BFIN04BCN1 senilai Rp200 miliar dengan 6 kali transaksi di harga tertinggi sebesar 100,69%. 

Berikutnya adalah surat utang korporasi dengan seri TDPM01 yang mencatatkan volume perdagangan sebesar Rp151,50 miliar dari 4 kali transaksi dengan ditutup pada harga 100,00%.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup melemah 68 pts (0,48%) di level 14148 per dollar Amerika. 

Bergerak pada kisaran antara 14003 hingga 14163 per dollar Amerika, nilai tukar rupiah dibuka menguat pada saat awal perdagangan  hingga pertengahan sesi perdagangan. 

Adapun pada akhir perdagangan hingga penutupan rupiah berada pada posisi melemah sebesar 0,48%. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin seiring dengan nilai tukar mata uang regional yang juga mengalami penurunan terhadap dollar Amerika di mana pelemahan terbesar terjadi pada mata uang rupee India yang melemah sebesar 0,67% diikuti dengan mata uang won Korea Selatan dan mata uang bath Thailand yang melemah masing-masing sebesar 0,47% dan 0,23%. 

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan arah bervariasi di tengah beragamnya sentimen yang ada di pasar surat utang global. 

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun berada pada level 2,730% dan untuk US Treasury bertenor 30 tahun berada pada level 3,004%. US Treasury dengan tenor 10 tahun tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya. 

Sementara itu, imbal hasil dari surat utang Jerman ditutup dengan koreksi sekitar 1 bps atau berada pada level 0,225%. Adapun pasar Amerika Serikat mengalami kenaikan sebesar 1,09% untuk indeks saham DJIA dan sebesar 1,08% untuk indeks saham NASDAQ.

economic calendar


Live Economic Calendar Powered by Investing.com - The Leading Financial Portal

Most Viewed






TOP PERFORMANCE

ucapan lebaran

Site search